Sabtu, 17 November 2007

Bekantan Si Pirang dan Orangutan Si Hitam

Fabel

Fabel ini adalah satu-satunya fabel yang pernah dimuat pada Koran Radar Banjarmasin

Sebuah hutan rimba di kawasan Kalimantan banyak terdapat satwa yang unik dan berbagai macam tumbuhan yang merupakan ciri khas daerah tersebut. Dulu, kehidupan dalam hutan tersebut aman dan tentram. Namun, setelah kedatangan penghuni barunya, para kelompok bekantan semuanya jadi berubah.

Banyak satwa yang terpaksa pergi dari hutan tersebut karena merasa tertindas oleh kelakuan para bekantan itu.

Suatu pagi, ketika hutan masih senyap hanya burung-burung yang berdendang. Beberapa orangutan memulai kegiatannya untuk mencari makan. Kali ini giliran si Uma dan anaknya si Aluh yang mencari makan. Kehidupan mereka masih berkelompok dengan penuh rasa gotong royong.

Ketika mereka sedang mengumpulkan buah-buahan yang ada di hutan, tiba-tiba si Aluh dikejutkan dengan tendangan kaki dari bekantan jantan yang nyaris menjatuhkannya dari pohon yang tinggi. Untung saja si Uma cepat menarik tangannya sehingga si Aluh terkait di dahan yang ada di bawahnya.

Bekantan itu lantas bicara:

“Kalian sudah melanggar hukum hutan ini, ini adalah wilayah kekuasaan kami”.

“Sejak dulu, kami sudah biasa mencari makan di daerah ini, tidak ada yang melarang”, Uma membela.

“Yang jelas tidak boleh, kalian bukan keturunan yang terhormat”, bekantan itu menjawab dengan sombongnya.

“Apa maksudmu?”, tanya Uma karena penasaran.

Tak ada jawaban dari bekantan itu, dia hanya berteriak untuk memanggil teman-temannya dan membuat para orangutan itu takut. Merasa terancam, Uma dan Aluh segera pergi tanpa sempat membawa buah-buahan yang sudah mereka petik.

Kelompok bekantan merasa menang atas perginya Uma dan Aluh. Dengan rakusnya mereka memakan buah-buahan yang tadi dipetik Uma dan Aluh.

Di hutan ini memang tak sesubur hutan dimana para bekantan itu tinggal. Di sini pohon-pohonnya sudah banyak yang tua, jangankan buah, daun-daunnya saja banyak yang tidak bisa dimakan karena terkena hama penyakit.sebenarnya, bekantan-bekantan itu, adalah kelompok baru yang ada di hutan dibandingkan dengan para orangutan dan satwa lainnya. Hanya saja bekantan itu sangat ganas, satwa yang lain terpaksa menyingkir dari hutan itu. Hukum rimba berlaku, siapa yang kuat dia yang dapat bertahan.

“Kalau dibiarkan begini terus, kita tidak akan bisa bertahan”, ucap Abah yang marah setelah mendengar cerita dari Uma dan aluh.

“Kita harus mencari akal, Bah!, supaya bekantan-bekantan itu tidak seenaknya memperlakukan kita!”, Anang yang juga kakak dari Aluh ikut bicara.

Di hutan hijau nan subur itu para bekantan juga masih memperbincangkan kejadian tadi:

“Hai…James, kenapa para orangutan itu, bisa sampai masuk ke wilayah kita? John ketua kelompok bekantan memulai pembicaraan.

“Saya juga tidak tahu, tapi saya rasa mereka sedang kekurangan makanan di hutan itu”, ucap James yang sering ditugaskan menjaga hutan kekuasaan mereka.

“Ya sudah…untuk apa kita bingung dengan mereka, yang penting kita tidak kelaparan”, ucap John dengan santai.

“It’s true……”, semua bekantan yang hadir menjawab.

Pagi yang cemerlang, dengan sinar matahari yang menyapa. Anang dan Abah menjelajah lewat ranting satu ke ranting yang lain. Lagi-lagi hutan tempat gerombolan bekantan sombong itu yang menjadi tempat mereka mencari makan.

Belum sempat mereka mencari makanan, John si ketua kelompok bekantan menghampiri mereka:

“Hai orangutan aneh, enyah kalian dari sini”

“Tunggu saudara, kami hanya ingin mencari sedikit makanan, tak lebih dari itu”, ucap abah dengan sabar.

“Apa? Saudara? No…no…no…” John menjawab dengan sombongnya.

Masih dengan penuh kesabaran Abah berkata lagi “Kita saudara, kita satu spesies, kita hanya berbeda nama. Lihatlah, kita mirip bukan?”

“Ha…ha…ha…” John tertawa dengan ganasnya, dia memanggil teman-teman yang lain untuk segera berkumpaul “Teman-teman, lihatlah dua makhluk ini, apakah kita sama dengan mereka?”.

“Tidak!!!”, serempak semua bekantan menjawab.

“Kita sama teman, hanya…”, belum selesai Ayah berucap, bekantan-bekantan itu berbicara satu persatu:

“Hanya hidung kita lebih mancung”

“Bulu kita lembut, lebat, dan pirang”

“Buntut kita lebih panjang dan bagus”

“sedangkan kalian…?”

“Hidung biasa-biasa saja, bulu hitam tak indah, buntut tidak panjang dan ha..ha…kami ini kelas elit, keturunan Indo”, dengan sombongnya bekantan-bekantan mengatakan hal tersebut pada Abah dan Anang.

“Baik! Kita akan buktikan, siapa yang pantas untuk tinggal di bagian hutan ini!”, ucap Abah yang sudah agak marah.

Tanpa perlawanan, Abah dan Anang pulang kembali ke hutan mereka. Abah sebagai yang tertua meminta Anang untuk “basaruan” kepada para orangutan yang tinggal di hutan itu. Maka, sebuah pertemuan pun digelar :

“Kita harus buktikan, bahwa kita yang pantas tinggal di hutan itu!”. Seru Abah membuka pertemuan itu.

“Dengan cara apa?”, salah satu dari mereka bicara.

Matahari sudah tergelincir ke barat, para bekantan yang serakah itu sudah kekenyangan dan mulai lelah, tertidur di atas pepohonan. Malam ini mereka terlena, tak ada penjagaan di hutan. Mereka merasa para orangutan itu tak berani lagi datang.

Anang dan beberapa orangutan lain dengan dipimpin Abah, bergerak melaksanakan rencana. Mereka membagi beberapa kelompok dalam melaksanakan aksinya. Mereka mulai memporak porandakan hutan. Ada yang merusak dedaunan, ada yang memetik buah-buahan dan mematahkan ranting-ranting.

Tak terasa apa yang mereka lakukan sudah lama dan hari hampir pagi. Sebelum mereka pergi Anang membakar beberapa ranting dengan tujuan memberi tanda pada polisi hutan yang berjaga di posnya. Setelah merasa cukup, mereka segera pulang ke hutan mereka.

Satu malam yang menyenangkan bagi para bekantan, karena mereka tidur dengan nyenyaknya tak ada yang terjaga ataupun terusik karena ulah para orangutan. Namun, bagi para orangutan, malam tadi adalah malam perjuangan untuk membuktikan bahwa mereka yang pantas tinggal di hutan itu.

“Hooooiii…bangun….! Bangun semuanya…cepat bangun..!”, teriak John. Seluruh bekantan bangun dan mereka terkejut melihat keadaan hutan yang sudah porak poranda.

Di tengah kebingungan mereka, para polisi hutan melihat tanda-tanda ketidak beresan pada daerah hutan yang dihuni para bekantan. Empat orang polisi hutan menuju daerah tersebut. Ketika melewati wilayah hutan para orangutan tinggal, mereka sengaja mengikuti para polisi tersebut.

Para bekantan tambah bingung, mereka bergelantungan di atas ranting-ranting dan mencoba berlompatan agar jauh dari para polisi dan orangutan tersebut.

Satu dari bekantan terkena peluru yang diletuskan oleh polisi karena mencoba mencakar polisi tersebut. Melihat temannya terkapar, maka John selaku ketua menyeru pada yang lain “ Ayo lekas kita tinggalkan hutan ini…secepatnya…”. Kelompok bekantan-bekantan itu akhirnya pergi dan sampai pada suatu hutan yang sudah gundul tak banyak pohon di sana, yang ada hanya pohon rambai dan pohon-pohon tanpa buah.

Ketika mereka merasa sudah cukup lama meninggalkan hutan mereka dulu, John mengajak untuk kembali, namun sayang, hutan tempat mereka, sekarang sudah terpisah dengan sungai tak ada pohon-pohon yang menghubungkan hutan mereka ke hutan yang dulu. Bekantan-bekantan itu bertahan hidup dengan memakan daun pohon rambai, dan mereka sekarang jadi hewan pemalu karena mereka tinggal di tempat yang terisolir.

Sepeninggal bekantan-bekantan, orangutan hidup dengan damai di hutan tersebut, mereka merasa puas atas kemenangan mereka. Mereka juga dapat membuktikan, bahwa orangutanlah yang pantas tinggal di hutan….

(Dimuat di Radar Banjarmasin)

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Wah laman yang bagus. Teruslah berkarya!
Bolehkah fabel tentang "Bekantan Si Pirang dan Orangutan Si Hitam" saya posting di blog saya, karena saya lagi mengumpulkan cerita rakyat dan fabel-fabel. Nanti blog kamu saya link di cerita tersebut. Bagaimana?

Anonim mengatakan...

Laman yang bagus, teruslah berkarya. Kalau boleh, tulisan kamu tentang "Bekantan Si Pirang dan Orangutan Si Hitam" saya posting ke blog saya? Karena saya lagi mengumpulkan cerita2 rakyat dan fabel2. Bagaimana?