Risa Lisdariani
puisi bagiku adalah mengumpulkan kata-kata yang mungkin tak bermakna bila tak berkawan,
puisi bagiku adalah mengumpulkan kata-kata yang mungkin tak bermakna bila tak berkawan,
Rapuh
Satu-satu hati ini meranggas
Menanti musim hujan
Menunggu masa lalu
Yang enggan kembali berbalik muka
Potretmu sudah hilang dari bingkainya
Kini hanya paku yang berkarat
Menunggu bingkai fitri
Yang sudi bertahan pada
Ke
Ra
Pu
Han
Ku
RACUN
Dik…senyumlah malam ini
Sebilah keris menggores pipimu
Dik… senyumlah malam ini
Sebatang rokok menyulut mulutmu
Dik…senyumlah!
Dik…senyum!
Dik menangislah malam ini
Seikat bunga berpita hitam untukmu
Dik… pergilah siang ini!
DATANGLAH MALAM INI!
Kutukan 100 Malam Minggu
Kutukan itu mengetuk lagi
100 malam minggu aku tertidur
Tanpa mimpi yang mampir
Kutukan itu…
Ada saat tepi sungai menyentuh kakiku
Riuh orang tak kudengar
Riak air memutar
Membawaku dalam 1 malam minggu
Terapung di lanting
Dan kembali kutukan itu
100 malam minggu lagi
Menikung
Tunggu di siring itu
Baju koko dan sajadah jadi saksi
Tunggu di depan mesjid itu
Kerudung putih dilambaikan
Bulan
Sayang…
Malam ini kuajak bulan bertamasya
Makanya malam jadi gelap
Wajahnya…
Bulan memerah malu
Tersenyum merayu tak kaku
Sayang
Ternyata dia bukan bulan
Karena bulan pasti setia pada malam
Dendam Bumi
Ini hanya setitik aroma bangkai
Yang tercium
Menjadi lautan kiamat kecil
Untuk membalas dendam
Sakit hati bumi pada manusia
Yang teraniyaya
Yang diperkosa
Yang dijual
Ketangan kiri bersarung hitam
Dan kanan bersarung $
Bumi berkata:
Berani tertawa
Berani menangis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar