Jumat, 16 November 2007

Cerpenku


Harapan Masa Senja

“Aki” usianya sudah senja duduk termenung di teras rumah yang atap sirapnya sudah berlubang di sana-sini. Aki hanya memandang pada langit yang jelas dapat diihat dari lubang-lubang atapnya. Matanyya berkaca-kaca seketika meneteskan air mata yang membasahi sarung lusuhnya.

Sore itu selepas salat asar, anak-anak sudah beramai-ramai pergi menuju rumah Pa Sobli guru mengaji baru tamatan IAIN. Aki hanya melempar senyum, sembari dalam hatinya berkata, “Dulu mereka selalu berbelok kea rah rumahku, tapi sekarang, mereka hanya mengucapkan kata permisi”.

Memang dulu Aki adalah guru mengaji pavorit di desa, karena terkenal ramah dan sabar kepada muri-muridnya, namun setelah kedatangan para Drs, S.Ag, dan sebagainya, Aki seperti kehilangan pamornya….

Tanda tanya terus berdatangan,apa hanya itu penyebabnya atau mungkin ada penyebab utama dari nasib yang dialami Aki sekarang?
Satu tahun yang lalu tepatnya bulan Ramadan, selepas salat asar, anak-anak sudah mulai berdatangan dan duduk di teras rumah Aki. Aki mulai mengajari mereka dengan sabar dan tekun tak mengharap imbalan apa-apa. “Aku melakukan ini ikhlas karma Allah”.
Di tengah keseriusan anak-anak mengaji, tiba-tiba atap rumah Aki roboh dan menimpa beberapa anak yang tidak sempat berlari termasuk Aki yang mencoba menyelamatkan anak-anak.Memang angina bertiup kencang namun tak merobohkan rumah yang lain. Hanya rumah Aki dan gubuk-gubuk tua yang hancur terkena angina.

Rupanya itulah penyebab dari keadaan Aki sekarang. Orang tua anak-anak yang mengaji di tempat Aki merasa takut kalau kejadian itu terulang lagi. Akhirnya setelah kejadian itu anak-anak belajar mengaji di rumah guru mengaji mereka yang baru, anak muda tamatan IAIN yaitu Sobli yang rumahnya lebih bagus dan aman darpada rumah Aki.

Kesedihan selalu melanda hati Aki, dia merasa di masa tuanya sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain mengajar anak-anak mengaji. “Aku kesepian!”. Ucap Aki, Aki kehilangan canda tawa anak-anak yang sudah seperti cucunya.

Aki memang tak mempunyai kemampuan untuk memperbaiki rumahnya terlebih setelah anak dan isterinya sudah terlebih dahulu pergi untuk selama-lamany menghadap Allah. Jangankan memperbaiki rumah, untuk makan sehari-hari saja Aki berjuang dengan menjadi tukang pembelah kayu di hutan dan menjualnya. Hasilnya memang tak seberapa dibandingkan dengan susah payahnya mengumpulkan kayu…”Akh! Memang masa tua yang muram”.
Membayangkan nikmatnya makan ayam saja rasanya sudah lupa. Memakai baju baru rasanya sudah tiga lebaran bahkan sudah membuat Aki lupa akan bau baju baru.

Memang getir kehidupan Aki di masa senjanya, “Andai ada yang memberi uang untuk aku, mungkin aku bisa menikmati semuanya”, angan-angan Aki membayangkan setumpuk uang di depannya. Matanya berbinar-binar penuh dengan kebahagiaan. Mulutnya tak henti-hentinya mengucapkan “Subhannallah”, sambil mengusap mukanya yang basah denagn air mata. Lalu Aki berkata, “Aku tak ingin makan ayam, aku tak ingin baju baru, aku tak inginharta… Aku hanya ingin memperbaiki rumah agar ada yang mengaji lagi”.

Tidak ada komentar: