Oleh: Risa Lisdariani
Mahasiswa FKIP Unlam
“Mati segan hidup tak mau” nampaknya sangat pas untuk menggambarkan kondisi perteateran tradisi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Berbicara mengenai teater tradisi Kalsel tentu kita akan mengarah kepada mamanda. Karena hanya mamandalah yang familiar di telinga urang banjar. Apa yang diketahui masyarakat kita mengenai teater tradisi di luar para pemerhati budaya atau para seniaman teater? Lagi-lagi jawabnya mamanda.Mahasiswa FKIP Unlam
Jika para seniman melihat fenomena tersebut, tentu akan peka dan mencoba kembali menengok pada masyarakat kita. Kembali kepada anggapan bahwa segala pertunjukan seni dalam hal ini mamanda adalah untuk dinikmati dan dikenalkan pada masyarakat. Dengan dasar itulah seharusnya mamanda hidup di tengah-tengah krisis budaya banjar.
Namun kenyataan berkata lain, bagaimana mamanda yang sudah krisis ini bisa hidup di tengah-tengah masyarakat yang juga krisis akan budaya banjar. Seharusnya, mamanda mampu menjadi media dalam mentransfer kebudayaan lokal sekaligus sebagai contoh konkrit cermin masyarakat banjar.
Sementara ini, mamanda hanya kita rasakan kelucuannya dan “carobo”. Para penonton hanya mengingat kekonyolan-kekonyolan yang seolah inti dari pementasan mamanda. Seolah-olah pertunjukan tersebut sengaja dibuat untuk menciptakan tawa bukan pengetahuan mengenai moral atau budaya kita. Mungkin hal tersebut tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat kita yang suka bergurau dan menjadikan mamanda sebagai sarananya.
Sekarang ini pertunjukan mamanda sudah mengalami modifikasi baik dari segi cerita maupun dalam hal lainnya termasuk kostum. Pakem-pakem yang sudah ada memang tetap dipertahankan sampai sekarang. Musik panting yang menjadi pengiringnya juga masih dapat kita dengarkan. Namun apa artinya pakem yang dipertahankan jika itu hanya sebagai penguat arti bahwa ini adalah pertunjukan mamanda tanpa menambah nilai-nilai dalam cerita.
Para pemain mamanda sekarang ini lebih didominasi anak muda. Dilain pihak hal ini sangat menggembirakan karena minat mereka terhadap teater tradisi sangat tinggi, bahkan ada yang mengkhususkan berteater dalam bidang mamanda dengan segala kreativitasnya. Namun, terkadang kreativitas mereka terlampau “liar” bahkan terkadang “mangaradau”. Naskah dibuat dengan instant untuk memenuhi tema yang diinginkan dan terkadang dengan latihan yang seadanya. Mereka tidak memikirkan apa yang mereka lakukan adalah salah satu penindasan terhadap seni teater tradisi kita ini.
Dibandingkan menggarap teater modern,dalam teater tradisi ini mereka hanya mempertimbangkan kesenangan semata. Asal penonton dan para pemain larut dalam kekonyolan yang dibuatnya maka jadilah sebuah pementasan yang jauh dari kesan pementasan mamanda. Akibatnya secara terstruktur, mereka melakukan kekeliruan yang sama dari generasi ke generasi.
Kiranya secuil gambaran di atas sudah cukup untuk mengembalikan mamanda kebanggaan kita menjadi sebuah pementasan yang menakjubkan bagi masyarakat kita. Mengembalikan mamanda pada porsi yang sebenarnya sebagai suatu teater tradisi untuk membentuk urang banjar yang berbudaya.
Sekarang yang menjadi hal terpenting adalah bagaimana hal ini dapat dicarikan jalan keluarnya.Kongres Budaya Banjar(KBB) kali ini merupakan tabir yang mampu menyinari kegelapan dalam kesenian mamanda yang sudah krisis. Bagaimana menyembuhkan para pelaku dalam mamanda ini sehingga dalam menampilkan kesenian ini mengedepankan hal-hal yang berbudaya apalagi menyangkut budaya banjar. Keputusan KBB kali ini harus menjadi tonggak awal untuk memecahkan permasalahan yang ada dalam seni tradisi kita khususnya mamanda.
Pembekalan atau pelatihan khusus yang diadakan rutin juga merupakan jalan keluar yang dinilai cukup mampu mengendalikan keadaan ini. Namun, dalam penyelenggaraannya juga jangan main –main dan dengan persiapan yang matang. Dalam hal ini utamakan hal-hal yang paling mendasar dan hal-hal yang paling banyak mengalami krisis dalam mamanda.
Generasi tuha pun harus mengarahkan para seniman muda ini dalam berkreativitas. Sehingga, dalam setiap pementasan yang mereka lakukan lebih terarah dan bernilai tinggi dalam segi penggarapan. Dengan demikian mereka akan mengenyampingkan hal-hal yang bersifat mubazir dan mengedepankan sisi pentingnya pesan-pesan yang bersifat budaya untuk membentuk urang banjar yang berbudaya.
dimuat di Koran Banjarmasin Post
Senin, 4 November 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar