Jumat, 16 November 2007

Pengakuan Sang Pidana


Cerpen
Oleh: Risa Lisdariani
Malam ini tak seperti biasanya, pertarungan petir terus-menerus mengganggu malamku. Tak ada ketenangan yang aku dapatkan sampai akhirnya kutuliskan surat ini pada yang menemukannya.
****
Tak pernah kubayangkan menghuni ruangan 3 x 4 ini. Pengap dan sunyi. Keganasan masih saja meraja malah semakin mengganas. Aku pikir orang-orang akan sadar setelah menjejakkan kaki di sini dan berubah lebih baik. Seperti halnya aku yang langsung meneteskan air mata tanda penyesalanku. Bagaimana tidak, anak dan isteriku terus meratap akan nasib yang kualami. Sungguh keterpaksaan yang aku lakukan malam itu, sangat berat rasanya menancapkan sebilah pisau pada teman sendiri. Salahnya, kenapa dia mesti merebut penumpang yang seharusnya giliranku ngojek. Pertengkaran malam itu berbuah petaka yang akhirnya mengurungku selama lima tahun.

Sesusah-susahnya tidur di rumah lebih baik bagiku daripada harus tidur dengan dipan yang penuh dengan kepinding. Tapi, lebih sulit lagi bila harus nekad tidur di lantai yang penuh bekas makanan dan kotoran-kotoran.

“Rasanya tak tahan juga bila tak membersihkan dipan ini sebelum tidur”, pikirku malam itu. Mungkin saja aku orang pertama yang melakukan hal itu selama di penjara. Kuangkat tilam yang sudah tak kencang lagi karena kapuknya sudah hancur. Benar-benar hujan abu dan kepinding di dalam sel malam itu. Tapi di antara debu-debu dan kepinding kutemukan benda yang berbeda, tampak sekali sebuah kertas yang terhitung sudah lama, apalagi setelah kulihat tanggalnya.

17 Desember 1985
Kepada penghuni baru,
Malam ini tak seperti biasanya, aku tersandar di sudut sel ini sambil memegang gemetar kertas dan pulpen. Pada Tuhan sudah kuceritakan yang sebenarnya, tapi tak satu manusiapun yang bisa kuajak berbagi. Siapapun kau yang menemukan surat ini, terimalah pengakuan ini:

Aku memang diarak subuh-subuh dan hampir dipasung. Kalau saja bukan karena cintaku pada Nala, malam-malam sekali aku tak akan keluar rumah. Janji bertemu di tepi danau saat terang bulan. “Ka, datanglah malam ini kita bertemu di tepi danau. Aku mohon dengan sangat”. Kata-kata terakhir itu yang membuat aku luluh dan mengiyakan hati ini untuk berangkat ke tepi danau.

Waktu hanya kami habiskan dengan membahas hal-hal yang aneh dan tiada berguna. “Wanita macam apa kau La, masa belum resmi jadi suami isteri kau mau aku melakukannya”, bentak aku pada Nala. Wanita manja itu hanya bisa menggigit jarinya dan menunduk. Aku tahu pasti akan hatinya malam itu, penuh dengan keragu-raguan. Semakin aku ingin tahu alasannya, semakin dia diam membisu dan membuat aku penasaran dibuatnya.

Kurangkul Nala dan mencoba memberikan pengertian. Bertahan dalam waktu yang tak sampai satu bulan adalah hari pernikahan kami. Ayahnya sudah setuju. “Lalu apa lagi La, kita akan jadi pasangan yang sempurna dalam waktu yang tak lama lagi”. Untuk hal lain aku masih bisa melalkukannya, tapi untuk menjadi suami sebelum menjadi suami ini tak mungkin.

“Tidakkah Kaka mencintai aku?”, matanya berkaca-kaca dan tangannya yang lembut itu menyentuh tanganku dengan gemetar. Dia berbisik di telingaku sambil dibarengi dengan desiran angin ”Umurku tak akan lama lagi, aku divonis kanker otak dan hanya tinggal beberapa saat lagi bisa menikmati hidup”. Aku mulai mengerti akan maksudnya, tapi aku masih belum bisa menerima pikiranya yang pendek itu.

Nala akan pergi entah sebelum atau sesudah pernikahan kami. Matanya terus menatapku penuh harap, luar biasa godaan matanya yang memelas. Semakin dalam dan tajam hingga menyeretku ke sebuah bilik yang tampak sengaja ada untuk kami. Malam ini lain dari biasanya. Nala dengan keberaniannya melakukan apa yang dia inginkan. Inikah aku? Laki-laki yang pasrah dan kalah....

Tapi, Nala tak bergerak lagi, dia terebah ketika enam langkah menuju tempatku. Kuraih sebelum dia terjatuh. “Ka, ini saatnya. Terlalu cepat dan aku harus….”. Sekejap malam itu sunyi dan udara berubah dingin sedingin badan mayat yang kupangku. Nala tetap cantik dan genit walaupun tak bernyawa lagi.

Ada banyak barisan obor yang semakin mendekat subuh itu, tampak rombongan orang-orang semakin mendekat ke tepi danau. Mereka menemui aku yang memangku mayat Nala dalam keadaan tak berbusana…
****
“Saudara dihukum 10 tahun penjara dengan tuduhan memperkosa dan membunuh korban bernama Nala”. Tak pernah kulakukan itu, ingin kubela diri ini namun apa daya kuasaku tak sampai menyentuh orang-orang hukum.

Hanya Tuhan yang tahu, bahwa aku tidak memperkosa dan membunuh Nala hari itu. Sekarang, kau juga tahu yang sebenarnya! Paling tidak kau tahu ada orang yang tak bersalah pernah di sel ini dan sangat kesepian sampai harus menulis surat ini. Tak punya kepastian kapan surat ini akan dibaca.

Terima kasih untuk mataku yang sempat melihat keindahan melalui Nala
Terima kasih untuk mataku yang sempat melihat kehancuran melalui Nala

****
“Saudara Iqbal, anda ada tamu yang ingin bertemu”, suara sipir penjara memecah heningku mengakhiri membaca surat. Sepasang mata bening sudah menantiku di balik jeruji ruang tunggu tamu. Uluran tangannya langsung kusambut dengan mesra, isteriku membawa rantang untuk makan dan membisik padaku” Bang, hari ini 17 Desember 2007 hari ulang tahun perkawinan kita ke 22. Selamat ya Bang”.

Dalam hatiku berkata” tanggal ini adalah kehidupan bagiku, namun kematian bagi sang pidana”.
Mungkin surat itu akan tetap aku simpan pada tempatnya dan akhirnya akan banyak yang membaca. Dengan begitu akan banyak juga orang yang tahu bahwa tak semua yang masuk sel adalah orang yang jahat, namun ada juga orang yang terjebak.



Tidak ada komentar: