Sabtu, 17 November 2007

Bekantan Si Pirang dan Orangutan Si Hitam

Fabel

Fabel ini adalah satu-satunya fabel yang pernah dimuat pada Koran Radar Banjarmasin

Sebuah hutan rimba di kawasan Kalimantan banyak terdapat satwa yang unik dan berbagai macam tumbuhan yang merupakan ciri khas daerah tersebut. Dulu, kehidupan dalam hutan tersebut aman dan tentram. Namun, setelah kedatangan penghuni barunya, para kelompok bekantan semuanya jadi berubah.

Banyak satwa yang terpaksa pergi dari hutan tersebut karena merasa tertindas oleh kelakuan para bekantan itu.

Suatu pagi, ketika hutan masih senyap hanya burung-burung yang berdendang. Beberapa orangutan memulai kegiatannya untuk mencari makan. Kali ini giliran si Uma dan anaknya si Aluh yang mencari makan. Kehidupan mereka masih berkelompok dengan penuh rasa gotong royong.

Ketika mereka sedang mengumpulkan buah-buahan yang ada di hutan, tiba-tiba si Aluh dikejutkan dengan tendangan kaki dari bekantan jantan yang nyaris menjatuhkannya dari pohon yang tinggi. Untung saja si Uma cepat menarik tangannya sehingga si Aluh terkait di dahan yang ada di bawahnya.

Bekantan itu lantas bicara:

“Kalian sudah melanggar hukum hutan ini, ini adalah wilayah kekuasaan kami”.

“Sejak dulu, kami sudah biasa mencari makan di daerah ini, tidak ada yang melarang”, Uma membela.

“Yang jelas tidak boleh, kalian bukan keturunan yang terhormat”, bekantan itu menjawab dengan sombongnya.

“Apa maksudmu?”, tanya Uma karena penasaran.

Tak ada jawaban dari bekantan itu, dia hanya berteriak untuk memanggil teman-temannya dan membuat para orangutan itu takut. Merasa terancam, Uma dan Aluh segera pergi tanpa sempat membawa buah-buahan yang sudah mereka petik.

Kelompok bekantan merasa menang atas perginya Uma dan Aluh. Dengan rakusnya mereka memakan buah-buahan yang tadi dipetik Uma dan Aluh.

Di hutan ini memang tak sesubur hutan dimana para bekantan itu tinggal. Di sini pohon-pohonnya sudah banyak yang tua, jangankan buah, daun-daunnya saja banyak yang tidak bisa dimakan karena terkena hama penyakit.sebenarnya, bekantan-bekantan itu, adalah kelompok baru yang ada di hutan dibandingkan dengan para orangutan dan satwa lainnya. Hanya saja bekantan itu sangat ganas, satwa yang lain terpaksa menyingkir dari hutan itu. Hukum rimba berlaku, siapa yang kuat dia yang dapat bertahan.

“Kalau dibiarkan begini terus, kita tidak akan bisa bertahan”, ucap Abah yang marah setelah mendengar cerita dari Uma dan aluh.

“Kita harus mencari akal, Bah!, supaya bekantan-bekantan itu tidak seenaknya memperlakukan kita!”, Anang yang juga kakak dari Aluh ikut bicara.

Di hutan hijau nan subur itu para bekantan juga masih memperbincangkan kejadian tadi:

“Hai…James, kenapa para orangutan itu, bisa sampai masuk ke wilayah kita? John ketua kelompok bekantan memulai pembicaraan.

“Saya juga tidak tahu, tapi saya rasa mereka sedang kekurangan makanan di hutan itu”, ucap James yang sering ditugaskan menjaga hutan kekuasaan mereka.

“Ya sudah…untuk apa kita bingung dengan mereka, yang penting kita tidak kelaparan”, ucap John dengan santai.

“It’s true……”, semua bekantan yang hadir menjawab.

Pagi yang cemerlang, dengan sinar matahari yang menyapa. Anang dan Abah menjelajah lewat ranting satu ke ranting yang lain. Lagi-lagi hutan tempat gerombolan bekantan sombong itu yang menjadi tempat mereka mencari makan.

Belum sempat mereka mencari makanan, John si ketua kelompok bekantan menghampiri mereka:

“Hai orangutan aneh, enyah kalian dari sini”

“Tunggu saudara, kami hanya ingin mencari sedikit makanan, tak lebih dari itu”, ucap abah dengan sabar.

“Apa? Saudara? No…no…no…” John menjawab dengan sombongnya.

Masih dengan penuh kesabaran Abah berkata lagi “Kita saudara, kita satu spesies, kita hanya berbeda nama. Lihatlah, kita mirip bukan?”

“Ha…ha…ha…” John tertawa dengan ganasnya, dia memanggil teman-teman yang lain untuk segera berkumpaul “Teman-teman, lihatlah dua makhluk ini, apakah kita sama dengan mereka?”.

“Tidak!!!”, serempak semua bekantan menjawab.

“Kita sama teman, hanya…”, belum selesai Ayah berucap, bekantan-bekantan itu berbicara satu persatu:

“Hanya hidung kita lebih mancung”

“Bulu kita lembut, lebat, dan pirang”

“Buntut kita lebih panjang dan bagus”

“sedangkan kalian…?”

“Hidung biasa-biasa saja, bulu hitam tak indah, buntut tidak panjang dan ha..ha…kami ini kelas elit, keturunan Indo”, dengan sombongnya bekantan-bekantan mengatakan hal tersebut pada Abah dan Anang.

“Baik! Kita akan buktikan, siapa yang pantas untuk tinggal di bagian hutan ini!”, ucap Abah yang sudah agak marah.

Tanpa perlawanan, Abah dan Anang pulang kembali ke hutan mereka. Abah sebagai yang tertua meminta Anang untuk “basaruan” kepada para orangutan yang tinggal di hutan itu. Maka, sebuah pertemuan pun digelar :

“Kita harus buktikan, bahwa kita yang pantas tinggal di hutan itu!”. Seru Abah membuka pertemuan itu.

“Dengan cara apa?”, salah satu dari mereka bicara.

Matahari sudah tergelincir ke barat, para bekantan yang serakah itu sudah kekenyangan dan mulai lelah, tertidur di atas pepohonan. Malam ini mereka terlena, tak ada penjagaan di hutan. Mereka merasa para orangutan itu tak berani lagi datang.

Anang dan beberapa orangutan lain dengan dipimpin Abah, bergerak melaksanakan rencana. Mereka membagi beberapa kelompok dalam melaksanakan aksinya. Mereka mulai memporak porandakan hutan. Ada yang merusak dedaunan, ada yang memetik buah-buahan dan mematahkan ranting-ranting.

Tak terasa apa yang mereka lakukan sudah lama dan hari hampir pagi. Sebelum mereka pergi Anang membakar beberapa ranting dengan tujuan memberi tanda pada polisi hutan yang berjaga di posnya. Setelah merasa cukup, mereka segera pulang ke hutan mereka.

Satu malam yang menyenangkan bagi para bekantan, karena mereka tidur dengan nyenyaknya tak ada yang terjaga ataupun terusik karena ulah para orangutan. Namun, bagi para orangutan, malam tadi adalah malam perjuangan untuk membuktikan bahwa mereka yang pantas tinggal di hutan itu.

“Hooooiii…bangun….! Bangun semuanya…cepat bangun..!”, teriak John. Seluruh bekantan bangun dan mereka terkejut melihat keadaan hutan yang sudah porak poranda.

Di tengah kebingungan mereka, para polisi hutan melihat tanda-tanda ketidak beresan pada daerah hutan yang dihuni para bekantan. Empat orang polisi hutan menuju daerah tersebut. Ketika melewati wilayah hutan para orangutan tinggal, mereka sengaja mengikuti para polisi tersebut.

Para bekantan tambah bingung, mereka bergelantungan di atas ranting-ranting dan mencoba berlompatan agar jauh dari para polisi dan orangutan tersebut.

Satu dari bekantan terkena peluru yang diletuskan oleh polisi karena mencoba mencakar polisi tersebut. Melihat temannya terkapar, maka John selaku ketua menyeru pada yang lain “ Ayo lekas kita tinggalkan hutan ini…secepatnya…”. Kelompok bekantan-bekantan itu akhirnya pergi dan sampai pada suatu hutan yang sudah gundul tak banyak pohon di sana, yang ada hanya pohon rambai dan pohon-pohon tanpa buah.

Ketika mereka merasa sudah cukup lama meninggalkan hutan mereka dulu, John mengajak untuk kembali, namun sayang, hutan tempat mereka, sekarang sudah terpisah dengan sungai tak ada pohon-pohon yang menghubungkan hutan mereka ke hutan yang dulu. Bekantan-bekantan itu bertahan hidup dengan memakan daun pohon rambai, dan mereka sekarang jadi hewan pemalu karena mereka tinggal di tempat yang terisolir.

Sepeninggal bekantan-bekantan, orangutan hidup dengan damai di hutan tersebut, mereka merasa puas atas kemenangan mereka. Mereka juga dapat membuktikan, bahwa orangutanlah yang pantas tinggal di hutan….

(Dimuat di Radar Banjarmasin)

Jumat, 16 November 2007

puisi

Risa Lisdariani


Keangkuhan

Malam…

Tak satupun yang menyapaku

Dalam rasa dan asa ini

Ku sepi berkawan ilalang

Temeram dalam gelap

Selaksa harap memercik

Berkobar tertiup angin malam

Namun,

Sesaat juga redup

Dan enggan menyala

Melayangkan sejuta tanya

Apakah malam memang jahat padaku?


Aku memerlukanMu

Setiap ayat terucap karena ada mulutMu

Setiap huruf tertulis karena ada tanganMu

Setiap jejak terpatri karena ada kakiMu

Setiap udara terhirup karena ada hidungMu

Setiap kata terdengar karena ada telingaMu

Setiap suka terlihat karena ada mataMu

Setiap apa yang ku mau karenaMu

Setiap apa yang terjadi padaku karenaMu

Apa artinya aku tanpaMu

Cerpenku


Harapan Masa Senja

“Aki” usianya sudah senja duduk termenung di teras rumah yang atap sirapnya sudah berlubang di sana-sini. Aki hanya memandang pada langit yang jelas dapat diihat dari lubang-lubang atapnya. Matanyya berkaca-kaca seketika meneteskan air mata yang membasahi sarung lusuhnya.

Sore itu selepas salat asar, anak-anak sudah beramai-ramai pergi menuju rumah Pa Sobli guru mengaji baru tamatan IAIN. Aki hanya melempar senyum, sembari dalam hatinya berkata, “Dulu mereka selalu berbelok kea rah rumahku, tapi sekarang, mereka hanya mengucapkan kata permisi”.

Memang dulu Aki adalah guru mengaji pavorit di desa, karena terkenal ramah dan sabar kepada muri-muridnya, namun setelah kedatangan para Drs, S.Ag, dan sebagainya, Aki seperti kehilangan pamornya….

Tanda tanya terus berdatangan,apa hanya itu penyebabnya atau mungkin ada penyebab utama dari nasib yang dialami Aki sekarang?
Satu tahun yang lalu tepatnya bulan Ramadan, selepas salat asar, anak-anak sudah mulai berdatangan dan duduk di teras rumah Aki. Aki mulai mengajari mereka dengan sabar dan tekun tak mengharap imbalan apa-apa. “Aku melakukan ini ikhlas karma Allah”.
Di tengah keseriusan anak-anak mengaji, tiba-tiba atap rumah Aki roboh dan menimpa beberapa anak yang tidak sempat berlari termasuk Aki yang mencoba menyelamatkan anak-anak.Memang angina bertiup kencang namun tak merobohkan rumah yang lain. Hanya rumah Aki dan gubuk-gubuk tua yang hancur terkena angina.

Rupanya itulah penyebab dari keadaan Aki sekarang. Orang tua anak-anak yang mengaji di tempat Aki merasa takut kalau kejadian itu terulang lagi. Akhirnya setelah kejadian itu anak-anak belajar mengaji di rumah guru mengaji mereka yang baru, anak muda tamatan IAIN yaitu Sobli yang rumahnya lebih bagus dan aman darpada rumah Aki.

Kesedihan selalu melanda hati Aki, dia merasa di masa tuanya sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain mengajar anak-anak mengaji. “Aku kesepian!”. Ucap Aki, Aki kehilangan canda tawa anak-anak yang sudah seperti cucunya.

Aki memang tak mempunyai kemampuan untuk memperbaiki rumahnya terlebih setelah anak dan isterinya sudah terlebih dahulu pergi untuk selama-lamany menghadap Allah. Jangankan memperbaiki rumah, untuk makan sehari-hari saja Aki berjuang dengan menjadi tukang pembelah kayu di hutan dan menjualnya. Hasilnya memang tak seberapa dibandingkan dengan susah payahnya mengumpulkan kayu…”Akh! Memang masa tua yang muram”.
Membayangkan nikmatnya makan ayam saja rasanya sudah lupa. Memakai baju baru rasanya sudah tiga lebaran bahkan sudah membuat Aki lupa akan bau baju baru.

Memang getir kehidupan Aki di masa senjanya, “Andai ada yang memberi uang untuk aku, mungkin aku bisa menikmati semuanya”, angan-angan Aki membayangkan setumpuk uang di depannya. Matanya berbinar-binar penuh dengan kebahagiaan. Mulutnya tak henti-hentinya mengucapkan “Subhannallah”, sambil mengusap mukanya yang basah denagn air mata. Lalu Aki berkata, “Aku tak ingin makan ayam, aku tak ingin baju baru, aku tak inginharta… Aku hanya ingin memperbaiki rumah agar ada yang mengaji lagi”.

Puisi-Puisiku

Risa Lisdariani
puisi bagiku adalah mengumpulkan kata-kata yang mungkin tak bermakna bila tak berkawan,

Rapuh

Satu-satu hati ini meranggas
Menanti musim hujan
Menunggu masa lalu
Yang enggan kembali berbalik muka
Potretmu sudah hilang dari bingkainya
Kini hanya paku yang berkarat
Menunggu bingkai fitri
Yang sudi bertahan pada
Ke
Ra
Pu
Han
Ku

RACUN

Dik…senyumlah malam ini
Sebilah keris menggores pipimu
Dik… senyumlah malam ini
Sebatang rokok menyulut mulutmu
Dik…senyumlah!
Dik…senyum!
Dik menangislah malam ini
Seikat bunga berpita hitam untukmu
Dik… pergilah siang ini!
DATANGLAH MALAM INI!


Kutukan 100 Malam Minggu

Kutukan itu mengetuk lagi
100 malam minggu aku tertidur
Tanpa mimpi yang mampir

Kutukan itu…
Ada saat tepi sungai menyentuh kakiku
Riuh orang tak kudengar
Riak air memutar
Membawaku dalam 1 malam minggu
Terapung di lanting
Dan kembali kutukan itu
100 malam minggu lagi
Menikung

Tunggu di siring itu
Baju koko dan sajadah jadi saksi
Tunggu di depan mesjid itu
Kerudung putih dilambaikan


Bulan
Sayang…
Malam ini kuajak bulan bertamasya
Makanya malam jadi gelap
Wajahnya…
Bulan memerah malu
Tersenyum merayu tak kaku
Sayang
Ternyata dia bukan bulan
Karena bulan pasti setia pada malam


Dendam Bumi
Ini hanya setitik aroma bangkai
Yang tercium
Menjadi lautan kiamat kecil
Untuk membalas dendam
Sakit hati bumi pada manusia
Yang teraniyaya
Yang diperkosa
Yang dijual
Ketangan kiri bersarung hitam
Dan kanan bersarung $
Bumi berkata:
Berani tertawa
Berani menangis

Pengakuan Sang Pidana


Cerpen
Oleh: Risa Lisdariani
Malam ini tak seperti biasanya, pertarungan petir terus-menerus mengganggu malamku. Tak ada ketenangan yang aku dapatkan sampai akhirnya kutuliskan surat ini pada yang menemukannya.
****
Tak pernah kubayangkan menghuni ruangan 3 x 4 ini. Pengap dan sunyi. Keganasan masih saja meraja malah semakin mengganas. Aku pikir orang-orang akan sadar setelah menjejakkan kaki di sini dan berubah lebih baik. Seperti halnya aku yang langsung meneteskan air mata tanda penyesalanku. Bagaimana tidak, anak dan isteriku terus meratap akan nasib yang kualami. Sungguh keterpaksaan yang aku lakukan malam itu, sangat berat rasanya menancapkan sebilah pisau pada teman sendiri. Salahnya, kenapa dia mesti merebut penumpang yang seharusnya giliranku ngojek. Pertengkaran malam itu berbuah petaka yang akhirnya mengurungku selama lima tahun.

Sesusah-susahnya tidur di rumah lebih baik bagiku daripada harus tidur dengan dipan yang penuh dengan kepinding. Tapi, lebih sulit lagi bila harus nekad tidur di lantai yang penuh bekas makanan dan kotoran-kotoran.

“Rasanya tak tahan juga bila tak membersihkan dipan ini sebelum tidur”, pikirku malam itu. Mungkin saja aku orang pertama yang melakukan hal itu selama di penjara. Kuangkat tilam yang sudah tak kencang lagi karena kapuknya sudah hancur. Benar-benar hujan abu dan kepinding di dalam sel malam itu. Tapi di antara debu-debu dan kepinding kutemukan benda yang berbeda, tampak sekali sebuah kertas yang terhitung sudah lama, apalagi setelah kulihat tanggalnya.

17 Desember 1985
Kepada penghuni baru,
Malam ini tak seperti biasanya, aku tersandar di sudut sel ini sambil memegang gemetar kertas dan pulpen. Pada Tuhan sudah kuceritakan yang sebenarnya, tapi tak satu manusiapun yang bisa kuajak berbagi. Siapapun kau yang menemukan surat ini, terimalah pengakuan ini:

Aku memang diarak subuh-subuh dan hampir dipasung. Kalau saja bukan karena cintaku pada Nala, malam-malam sekali aku tak akan keluar rumah. Janji bertemu di tepi danau saat terang bulan. “Ka, datanglah malam ini kita bertemu di tepi danau. Aku mohon dengan sangat”. Kata-kata terakhir itu yang membuat aku luluh dan mengiyakan hati ini untuk berangkat ke tepi danau.

Waktu hanya kami habiskan dengan membahas hal-hal yang aneh dan tiada berguna. “Wanita macam apa kau La, masa belum resmi jadi suami isteri kau mau aku melakukannya”, bentak aku pada Nala. Wanita manja itu hanya bisa menggigit jarinya dan menunduk. Aku tahu pasti akan hatinya malam itu, penuh dengan keragu-raguan. Semakin aku ingin tahu alasannya, semakin dia diam membisu dan membuat aku penasaran dibuatnya.

Kurangkul Nala dan mencoba memberikan pengertian. Bertahan dalam waktu yang tak sampai satu bulan adalah hari pernikahan kami. Ayahnya sudah setuju. “Lalu apa lagi La, kita akan jadi pasangan yang sempurna dalam waktu yang tak lama lagi”. Untuk hal lain aku masih bisa melalkukannya, tapi untuk menjadi suami sebelum menjadi suami ini tak mungkin.

“Tidakkah Kaka mencintai aku?”, matanya berkaca-kaca dan tangannya yang lembut itu menyentuh tanganku dengan gemetar. Dia berbisik di telingaku sambil dibarengi dengan desiran angin ”Umurku tak akan lama lagi, aku divonis kanker otak dan hanya tinggal beberapa saat lagi bisa menikmati hidup”. Aku mulai mengerti akan maksudnya, tapi aku masih belum bisa menerima pikiranya yang pendek itu.

Nala akan pergi entah sebelum atau sesudah pernikahan kami. Matanya terus menatapku penuh harap, luar biasa godaan matanya yang memelas. Semakin dalam dan tajam hingga menyeretku ke sebuah bilik yang tampak sengaja ada untuk kami. Malam ini lain dari biasanya. Nala dengan keberaniannya melakukan apa yang dia inginkan. Inikah aku? Laki-laki yang pasrah dan kalah....

Tapi, Nala tak bergerak lagi, dia terebah ketika enam langkah menuju tempatku. Kuraih sebelum dia terjatuh. “Ka, ini saatnya. Terlalu cepat dan aku harus….”. Sekejap malam itu sunyi dan udara berubah dingin sedingin badan mayat yang kupangku. Nala tetap cantik dan genit walaupun tak bernyawa lagi.

Ada banyak barisan obor yang semakin mendekat subuh itu, tampak rombongan orang-orang semakin mendekat ke tepi danau. Mereka menemui aku yang memangku mayat Nala dalam keadaan tak berbusana…
****
“Saudara dihukum 10 tahun penjara dengan tuduhan memperkosa dan membunuh korban bernama Nala”. Tak pernah kulakukan itu, ingin kubela diri ini namun apa daya kuasaku tak sampai menyentuh orang-orang hukum.

Hanya Tuhan yang tahu, bahwa aku tidak memperkosa dan membunuh Nala hari itu. Sekarang, kau juga tahu yang sebenarnya! Paling tidak kau tahu ada orang yang tak bersalah pernah di sel ini dan sangat kesepian sampai harus menulis surat ini. Tak punya kepastian kapan surat ini akan dibaca.

Terima kasih untuk mataku yang sempat melihat keindahan melalui Nala
Terima kasih untuk mataku yang sempat melihat kehancuran melalui Nala

****
“Saudara Iqbal, anda ada tamu yang ingin bertemu”, suara sipir penjara memecah heningku mengakhiri membaca surat. Sepasang mata bening sudah menantiku di balik jeruji ruang tunggu tamu. Uluran tangannya langsung kusambut dengan mesra, isteriku membawa rantang untuk makan dan membisik padaku” Bang, hari ini 17 Desember 2007 hari ulang tahun perkawinan kita ke 22. Selamat ya Bang”.

Dalam hatiku berkata” tanggal ini adalah kehidupan bagiku, namun kematian bagi sang pidana”.
Mungkin surat itu akan tetap aku simpan pada tempatnya dan akhirnya akan banyak yang membaca. Dengan begitu akan banyak juga orang yang tahu bahwa tak semua yang masuk sel adalah orang yang jahat, namun ada juga orang yang terjebak.



Krisis Mamanda di tengah Krisis Budaya


Oleh: Risa Lisdariani
Mahasiswa FKIP Unlam
“Mati segan hidup tak mau” nampaknya sangat pas untuk menggambarkan kondisi perteateran tradisi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Berbicara mengenai teater tradisi Kalsel tentu kita akan mengarah kepada mamanda. Karena hanya mamandalah yang familiar di telinga urang banjar. Apa yang diketahui masyarakat kita mengenai teater tradisi di luar para pemerhati budaya atau para seniaman teater? Lagi-lagi jawabnya mamanda.

Jika para seniman melihat fenomena tersebut, tentu akan peka dan mencoba kembali menengok pada masyarakat kita. Kembali kepada anggapan bahwa segala pertunjukan seni dalam hal ini mamanda adalah untuk dinikmati dan dikenalkan pada masyarakat. Dengan dasar itulah seharusnya mamanda hidup di tengah-tengah krisis budaya banjar.
Namun kenyataan berkata lain, bagaimana mamanda yang sudah krisis ini bisa hidup di tengah-tengah masyarakat yang juga krisis akan budaya banjar. Seharusnya, mamanda mampu menjadi media dalam mentransfer kebudayaan lokal sekaligus sebagai contoh konkrit cermin masyarakat banjar.

Sementara ini, mamanda hanya kita rasakan kelucuannya dan “carobo”. Para penonton hanya mengingat kekonyolan-kekonyolan yang seolah inti dari pementasan mamanda. Seolah-olah pertunjukan tersebut sengaja dibuat untuk menciptakan tawa bukan pengetahuan mengenai moral atau budaya kita. Mungkin hal tersebut tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat kita yang suka bergurau dan menjadikan mamanda sebagai sarananya.

Sekarang ini pertunjukan mamanda sudah mengalami modifikasi baik dari segi cerita maupun dalam hal lainnya termasuk kostum. Pakem-pakem yang sudah ada memang tetap dipertahankan sampai sekarang. Musik panting yang menjadi pengiringnya juga masih dapat kita dengarkan. Namun apa artinya pakem yang dipertahankan jika itu hanya sebagai penguat arti bahwa ini adalah pertunjukan mamanda tanpa menambah nilai-nilai dalam cerita.

Para pemain mamanda sekarang ini lebih didominasi anak muda. Dilain pihak hal ini sangat menggembirakan karena minat mereka terhadap teater tradisi sangat tinggi, bahkan ada yang mengkhususkan berteater dalam bidang mamanda dengan segala kreativitasnya. Namun, terkadang kreativitas mereka terlampau “liar” bahkan terkadang “mangaradau”. Naskah dibuat dengan instant untuk memenuhi tema yang diinginkan dan terkadang dengan latihan yang seadanya. Mereka tidak memikirkan apa yang mereka lakukan adalah salah satu penindasan terhadap seni teater tradisi kita ini.

Dibandingkan menggarap teater modern,dalam teater tradisi ini mereka hanya mempertimbangkan kesenangan semata. Asal penonton dan para pemain larut dalam kekonyolan yang dibuatnya maka jadilah sebuah pementasan yang jauh dari kesan pementasan mamanda. Akibatnya secara terstruktur, mereka melakukan kekeliruan yang sama dari generasi ke generasi.

Kiranya secuil gambaran di atas sudah cukup untuk mengembalikan mamanda kebanggaan kita menjadi sebuah pementasan yang menakjubkan bagi masyarakat kita. Mengembalikan mamanda pada porsi yang sebenarnya sebagai suatu teater tradisi untuk membentuk urang banjar yang berbudaya.

Sekarang yang menjadi hal terpenting adalah bagaimana hal ini dapat dicarikan jalan keluarnya.Kongres Budaya Banjar(KBB) kali ini merupakan tabir yang mampu menyinari kegelapan dalam kesenian mamanda yang sudah krisis. Bagaimana menyembuhkan para pelaku dalam mamanda ini sehingga dalam menampilkan kesenian ini mengedepankan hal-hal yang berbudaya apalagi menyangkut budaya banjar. Keputusan KBB kali ini harus menjadi tonggak awal untuk memecahkan permasalahan yang ada dalam seni tradisi kita khususnya mamanda.
Pembekalan atau pelatihan khusus yang diadakan rutin juga merupakan jalan keluar yang dinilai cukup mampu mengendalikan keadaan ini. Namun, dalam penyelenggaraannya juga jangan main –main dan dengan persiapan yang matang. Dalam hal ini utamakan hal-hal yang paling mendasar dan hal-hal yang paling banyak mengalami krisis dalam mamanda.

Generasi tuha pun harus mengarahkan para seniman muda ini dalam berkreativitas. Sehingga, dalam setiap pementasan yang mereka lakukan lebih terarah dan bernilai tinggi dalam segi penggarapan. Dengan demikian mereka akan mengenyampingkan hal-hal yang bersifat mubazir dan mengedepankan sisi pentingnya pesan-pesan yang bersifat budaya untuk membentuk urang banjar yang berbudaya.

dimuat di Koran Banjarmasin Post
Senin, 4 November 2007

Kamis, 15 November 2007

Salam Kenal

Ass. salam kenal dari orang Kandangan yang baru bisa bikin blog. Blog barang asing buatku, namun sekarang kucoba untuk mendekati dan mengenalnya lebih jauh ya pdkt gitu he3x (kaya orang pacaran ya?). dengan harapan blogg empunya Risa ini bisa bermanfaat bagi semuanya. Sebuah Tangga Kehidupan menjadi pilihanku karena aku menganggap sebuah kehidupan tak ubahnya sebuah tangga yang mana satu tangga bisa untuk naik turun, iya kan?

Kayanya cukup dulu sekedar perkenalan dari aku. Aku ucapkan Selamat Datang dan Selamat menikmati hidangan blog ini.....Wss