Selasa, 24 Desember 2013


Tentang Kita
Karya: Risa Lisdariani

Namaku Alvito Rahandika Firdaus. Sahabat-sahabatku biasa menyapa dengan sebutan “Toto”. Toto itu singkatan dari Vito yang diambil suku kata terakhirnya “To.”
Aku berdarah Bandung-Jawa yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayahku dulu berjualan daging sapi di pasar, sebelum akhirnya sakit karena kebiasaannya merokok sampai akhirnya kini paru-parunya rusak parah. Ayah kerap kali batuk berdarah dan sering muntah darah juga, sampai akhirnya ia hanya bisa berbaring lemas di tempat tidur dan tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Alhasil, usaha ayah di pasar pun harus dihentikan alias gulung tikar. Dengan kondisi ayah yang seperti itu, akhirnya mama harus bekerja banting-tulang untuk menghidupi kebutuhan kami sehari-hari. Mungkin inilah yang akhirnya membuat perasaanku lebih peka.
Keseharianku tidak lepas dari tiga sahabat setiaku, Fadil, Egi, dan Tedy yang luar biasa hebat. Mereka itu seperti pahlawan buatku. Saat sedih dan duka, mereka selalu ada. Apalagi pada saat merasa gembira. Mereka persis seperti apa yang ibuku pernah katakana “Sahabat itu tidak hanya pada saat kita senang ia ada, tapi juga pada saat kita sedang kesusahan.” Aku berjanji akan membagikan kebahagiaanku untuk mereka.
Pernah, saat aku merasa sedih tentang penyakit yang menimpa ayahku, mereka mau menerima curhatanku. Tak hanya itu, solusi terbaik pun mereka tawarkan. Alhasil, aku bisa melewati hidup ini dengan lebih baik dengan adanya mereka.
Persahabatan antara aku dengan Fadil, Egi, dan Tedy itu sudah berjalan hampir empat tahun. Mereka, aku kenal sejak kelas empat sekolah dasar (SD). Tidak heran kalau kita mengenal satu sama lain. kebetulan juga memang satu kelas.

Fadil itu paling sensitive di antara kami. Perawakannya kurus dengan rambut ikal. Ada tahi lalat di atas bibirnya. Satu hal yang tidak dapat dilakukan Fadil adalah bernyanyi sambil tepuk tangan. Ini karena ia adalah orang yang harus focus dengan satu hal saja. Kalau dihadapkan dengan dua hal sekaligus, ya, seperti itu jadinya. Fadil adalah anak pertama dari dua bersaudara, sama sepertiku. Orangtuanya memiliki sebuah salon kecil-kecilan yang laris diserbu orang-orang karena tarifnya murah. Fadil juga ikut membantu mengelolanya jika tidak ada tugas dari sekolah.
Kalau Egi, dia humoris. Sering bercanda. Kalau kami sedang perlu hiburan, Egi biasanya yang membuat lawakan-lawakan segar. Kebiasaan dari Egi adalah kerap menggunakan tangan kirinya. Makanya sering kita sebut “Si Tangan Kidal.” Egi adalah anak satu-satunya. Ayahnya memiliki usaha bengkel motor kecil-kecilan yang diabantu oleh dua orang karyawan. Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga.
Sementara Tedy, berbeda dengan kita bertiga yang terkadang masih kekanak-kanakan, Tedy tidak seperti itu. Ia orang yang paling bijak di antara kami.  Sifatnya itu mungkin terpengaruh oleh tontonan yang paling ia sukai yaitu “Mario Teguh” Salam Super!. Ia tidak terlalu tinggi dengan kulit agak kecoklatan. Berbeda dengan kami yang sedikit lebih kekuning-kuningan. Tedy anak kedua dari dua bersaudara. Ayahnya hanyalah seorang kuli dari servis elektronik. Sedangkan ibunya, hanya seorang buruh cuci pakaian. Satu kesamaan kita adalah, karena perasaan senasib. Iya senasib. Sama-sama bernasib kurang beruntung dalam ekonomi. Tapi, kita berempat yakin kalau doa dan kerja keras kita akan dikabulkan Tuhan. Semua akan indah pada waktunya.


Cita-cita kami berempat sangat besar dan malah sering dianggap berlebihan. Bagaimana tidak, aku bercita-cita ingin menjadi seorang ahli jembatan yang karya-karyaku akan selalu dikenal orang karena kemegahannya. Aku dikenal dan pasti akan diundang ke tempat-tempat jauh yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya
Lain lagi dengan Tedy dia memiliki keinginan menjadi pedagang yang sukses, memiliki took di mana-mana dan yang membuat kami terkagum-kagum dengan Tedy adalah ia akan membangun panti asuhan untuk anak yatim yang memang memerlukan bantuan. Tidak hanya itu, dia juga ingin membangun panti jompo.  Untuk cita-cita itu kami tahu persis kejadiannya dan sangat mengharukan.
Suatu sore saat hujan lebat, Tedy sedang asik duduk-duduk bersama ayahynya. Tedy biasa mencabuti uban ayahnya sambil bercerita tentang kejadian dalam satu hari. Tiba-tiba ada seorang nenek tua yang sudah basah kuyup dan berjalan terseok-seok tak tahu arah.
“Astaga! Nek! Mari sini jangan terus berjalan, nanti Nenek sakit. Hujannya lebat. Kilatnya bisa menyambar tak terduga.” Kata Tedy yang tak segan juga berhujan-hujan untuk menolong nenek itu.
Tedy lekas mengambilkan anduk dan baju ganti untuk nenek itu. Sedangkan ayahnya menyiapkan segelas teh hangat, ibunya menggosoki kaki nenek itu dengan minyak penghangat.
“Nenek dari mana dan mau ke mana?” Tanya ayah Tedy dengan rasa penasaran.
“Nenek bingung mau ke mana, yang penting bisa ada tempat berteduh.” Sahut nenek sambil gemetar karena suhu tubuhnya sangat dingin.
“suami dan anak atau keluarga nenek di mana? Biar kami antar pulang, pasti mereka cemas sekali.” Timpal Ibu yang tak henti-hentinya melumuri kaki dan tangan nenek dengan minyak penghangat.
“Suami sudah meninggal, dan anak-anak sudah merantau semuanya cari kerja ke kota. Nenek dititipkan dengan tetangga dan mendiami rumah tua yang sekarang digusur karena tidak ada sertifikatnya.”
“tak ada ganti rugi Nek?” biasanya pasti diberi sesuai harga pasaran tanah dan bangunan rumah Nenek!” tambah Tedy yang sok jadi pemikir.
“tak ada sertifikat, segel juga jadi tak ada kekuatan apa-apa untuk mempertahankan rumah.”
“Tapi kelurga semuanya sudah diberi kabar kan?”
“Itulah Cu, nenek sama sekali tak tahu alamat, hp, atau kabar mereka semua. Nenek bingung. Tetangga saja sudah sibuk dengan urusan mereka, jadi nenek tidak mau membebani mereka. Jadi Nenek pergi saja.”
Tedy, ayah dan ibunya Cuma bisa merasa iba pada nasib nenek itu. Sebenarnya mereka ingin sekali menampung nenek itu untuk tinggal bersama mereka. Namun, mereka juga berpikir tentang perekonomian yang pas-pasan. Ini seperti buah simalakama….serba salah.
Akhirnya Tedy pergi ke rumah Pak RT untuk meinta pendapat tentang kejadian itu. Alhasil Panti Jompo adalah jawabannya.
“Nenek tidak keberatan kan kalau Nenek kami antar ke panti jompo?” Tanya Tedy dengan nada ragu dan iba.
“Iya, Nek! Di sana Nenek bisa lebih baik, semuanya terjamin dan pasti aman. Nenek juga akan banyak teman dan pasti tak akan sedih lagi.”
Agak lama nenek itu menjawab, entah apa yang ada dipikirannya, mudah-mudahan tidak jelek pada keluarga Tedy.
“ya, Nenek mau. Sekarang saja supaya lebih tenang.” Sahut nenek dengan rasa penasaran dengan panti jompo.
Sejak saat itu Tedy merasa panti jompo adalah tempat istimewa dan harus mendapat perhatian khusus nantinya.
Lain dengan Fadil cita-citanya kadang tak tetap, cepat goyah tergantung musim seperti buah. Kalau sedang ramai-ramainya orang membicarakan tentang Timnas sepak bola yang prestasinya baik, maka Fadil ingin menjadi pesepak bola yang handal dan dilirik oleh club asing dengan bayaran yang besar. Kalau sedang ada kasus hukum yang berat dan berhasil diselesaikan, maka ia ingin jadi pengacara, dan seterusnya. Namun yang paling Fadil ingini sebenarnya adalah menjadi seorang koki di hotel berbintang membuat masakan yang berkelas internasional dan mendapat fasilitas yang mewah. Sampai-sampai celengan yang dipecahnya digunakan untuk membeli satu set pisau dengan banyak kegunaan. Malahan kata ibunya, Fadil sering membawa pisaunya tidur….aneh memang.
Egi cita-citanya sederhana, yaitu menjadi PNS dalam bidang apa saja, yang jelas nantinya ada uang jaminan hari tua, kesehatan sampai kematian. Ingin menaikhajikan kedua orang tuanya dan membelikan rumah lengkap dengan perabot kelas atas dan serba puti.
****
          Terkadang kami sering tertawa sendiri memikirkan cita-cita kami itu, namun dengan segera kami sadar kalau dengan mentertawakan cita-cita berarti sudah menghalangi cita-cita itu menjadi kenyataan dalam hidup kami. Dan ketika kesadaran itu datang maka kami bersama-sama akan berteriak”TIDAK”
          Kami selalu belajar berpikir positif dan optimis dengan mengambil beberapa pelajaran dari orang-oarang yang berhasil, namun mereka bukan dari kalangan berada, tetapi seperti kami. Lalu mengapa kami harus resah dan pasrah. Kami harus mampu mewujudkan cita-cita kami.

Tidak ada komentar: