Tentang Kita
Karya: Risa Lisdariani
Namaku
Alvito Rahandika Firdaus. Sahabat-sahabatku biasa menyapa dengan sebutan
“Toto”. Toto itu singkatan dari Vito yang diambil suku kata terakhirnya “To.”
Aku
berdarah Bandung-Jawa yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayahku
dulu berjualan daging sapi di pasar, sebelum akhirnya sakit karena kebiasaannya
merokok sampai akhirnya kini paru-parunya rusak parah. Ayah kerap kali batuk
berdarah dan sering muntah darah juga, sampai akhirnya ia hanya bisa berbaring
lemas di tempat tidur dan tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Alhasil,
usaha ayah di pasar pun harus dihentikan alias gulung tikar. Dengan kondisi
ayah yang seperti itu, akhirnya mama harus bekerja banting-tulang untuk
menghidupi kebutuhan kami sehari-hari. Mungkin inilah yang akhirnya membuat
perasaanku lebih peka.
Keseharianku
tidak lepas dari tiga sahabat setiaku, Fadil, Egi, dan Tedy yang luar biasa
hebat. Mereka itu seperti pahlawan buatku. Saat sedih dan duka, mereka selalu
ada. Apalagi pada saat merasa gembira. Mereka persis seperti apa yang ibuku
pernah katakana “Sahabat itu tidak hanya pada saat kita senang ia ada, tapi juga
pada saat kita sedang kesusahan.” Aku berjanji akan membagikan kebahagiaanku
untuk mereka.
Pernah,
saat aku merasa sedih tentang penyakit yang menimpa ayahku, mereka mau menerima
curhatanku. Tak hanya itu, solusi terbaik pun mereka tawarkan. Alhasil, aku
bisa melewati hidup ini dengan lebih baik dengan adanya mereka.
Persahabatan
antara aku dengan Fadil, Egi, dan Tedy itu sudah berjalan hampir empat tahun.
Mereka, aku kenal sejak kelas empat sekolah dasar (SD). Tidak heran kalau kita
mengenal satu sama lain. kebetulan juga memang satu kelas.
Fadil
itu paling sensitive di antara kami. Perawakannya kurus dengan rambut ikal. Ada
tahi lalat di atas bibirnya. Satu hal yang tidak dapat dilakukan Fadil adalah
bernyanyi sambil tepuk tangan. Ini karena ia adalah orang yang harus focus
dengan satu hal saja. Kalau dihadapkan dengan dua hal sekaligus, ya, seperti
itu jadinya. Fadil adalah anak pertama dari dua bersaudara, sama sepertiku.
Orangtuanya memiliki sebuah salon kecil-kecilan yang laris diserbu orang-orang karena
tarifnya murah. Fadil juga ikut membantu mengelolanya jika tidak ada tugas dari
sekolah.
Kalau
Egi, dia humoris. Sering bercanda. Kalau kami sedang perlu hiburan, Egi
biasanya yang membuat lawakan-lawakan segar. Kebiasaan dari Egi adalah kerap
menggunakan tangan kirinya. Makanya sering kita sebut “Si Tangan Kidal.” Egi
adalah anak satu-satunya. Ayahnya memiliki usaha bengkel motor kecil-kecilan
yang diabantu oleh dua orang karyawan. Sedangkan ibunya adalah ibu rumah
tangga.
Sementara
Tedy, berbeda dengan kita bertiga yang terkadang masih kekanak-kanakan, Tedy
tidak seperti itu. Ia orang yang paling bijak di antara kami. Sifatnya itu mungkin terpengaruh oleh
tontonan yang paling ia sukai yaitu “Mario Teguh” Salam Super!. Ia tidak
terlalu tinggi dengan kulit agak kecoklatan. Berbeda dengan kami yang sedikit
lebih kekuning-kuningan. Tedy anak kedua dari dua bersaudara. Ayahnya hanyalah
seorang kuli dari servis elektronik. Sedangkan ibunya, hanya seorang buruh cuci
pakaian. Satu kesamaan kita adalah, karena perasaan senasib. Iya senasib.
Sama-sama bernasib kurang beruntung dalam ekonomi. Tapi, kita berempat yakin
kalau doa dan kerja keras kita akan dikabulkan Tuhan. Semua akan indah pada
waktunya.
Cita-cita
kami berempat sangat besar dan malah sering dianggap berlebihan. Bagaimana
tidak, aku bercita-cita ingin menjadi seorang ahli jembatan yang karya-karyaku
akan selalu dikenal orang karena kemegahannya. Aku dikenal dan pasti akan
diundang ke tempat-tempat jauh yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya
Lain
lagi dengan Tedy dia memiliki keinginan menjadi pedagang yang sukses, memiliki
took di mana-mana dan yang membuat kami terkagum-kagum dengan Tedy adalah ia
akan membangun panti asuhan untuk anak yatim yang memang memerlukan bantuan.
Tidak hanya itu, dia juga ingin membangun panti jompo. Untuk cita-cita itu kami tahu persis
kejadiannya dan sangat mengharukan.
Suatu
sore saat hujan lebat, Tedy sedang asik duduk-duduk bersama ayahynya. Tedy
biasa mencabuti uban ayahnya sambil bercerita tentang kejadian dalam satu hari.
Tiba-tiba ada seorang nenek tua yang sudah basah kuyup dan berjalan
terseok-seok tak tahu arah.
“Astaga!
Nek! Mari sini jangan terus berjalan, nanti Nenek sakit. Hujannya lebat.
Kilatnya bisa menyambar tak terduga.” Kata Tedy yang tak segan juga
berhujan-hujan untuk menolong nenek itu.
Tedy
lekas mengambilkan anduk dan baju ganti untuk nenek itu. Sedangkan ayahnya
menyiapkan segelas teh hangat, ibunya menggosoki kaki nenek itu dengan minyak
penghangat.
“Nenek
dari mana dan mau ke mana?” Tanya ayah Tedy dengan rasa penasaran.
“Nenek
bingung mau ke mana, yang penting bisa ada tempat berteduh.” Sahut nenek sambil
gemetar karena suhu tubuhnya sangat dingin.
“suami
dan anak atau keluarga nenek di mana? Biar kami antar pulang, pasti mereka
cemas sekali.” Timpal Ibu yang tak henti-hentinya melumuri kaki dan tangan
nenek dengan minyak penghangat.
“Suami
sudah meninggal, dan anak-anak sudah merantau semuanya cari kerja ke kota.
Nenek dititipkan dengan tetangga dan mendiami rumah tua yang sekarang digusur
karena tidak ada sertifikatnya.”
“tak
ada ganti rugi Nek?” biasanya pasti diberi sesuai harga pasaran tanah dan
bangunan rumah Nenek!” tambah Tedy yang sok jadi pemikir.
“tak
ada sertifikat, segel juga jadi tak ada kekuatan apa-apa untuk mempertahankan
rumah.”
“Tapi
kelurga semuanya sudah diberi kabar kan?”
“Itulah
Cu, nenek sama sekali tak tahu alamat, hp, atau kabar mereka semua. Nenek
bingung. Tetangga saja sudah sibuk dengan urusan mereka, jadi nenek tidak mau
membebani mereka. Jadi Nenek pergi saja.”
Tedy,
ayah dan ibunya Cuma bisa merasa iba pada nasib nenek itu. Sebenarnya mereka
ingin sekali menampung nenek itu untuk tinggal bersama mereka. Namun, mereka
juga berpikir tentang perekonomian yang pas-pasan. Ini seperti buah
simalakama….serba salah.
Akhirnya
Tedy pergi ke rumah Pak RT untuk meinta pendapat tentang kejadian itu. Alhasil
Panti Jompo adalah jawabannya.
“Nenek
tidak keberatan kan kalau Nenek kami antar ke panti jompo?” Tanya Tedy dengan
nada ragu dan iba.
“Iya,
Nek! Di sana Nenek bisa lebih baik, semuanya terjamin dan pasti aman. Nenek
juga akan banyak teman dan pasti tak akan sedih lagi.”
Agak
lama nenek itu menjawab, entah apa yang ada dipikirannya, mudah-mudahan tidak
jelek pada keluarga Tedy.
“ya,
Nenek mau. Sekarang saja supaya lebih tenang.” Sahut nenek dengan rasa
penasaran dengan panti jompo.
Sejak
saat itu Tedy merasa panti jompo adalah tempat istimewa dan harus mendapat
perhatian khusus nantinya.
Lain
dengan Fadil cita-citanya kadang tak tetap, cepat goyah tergantung musim
seperti buah. Kalau sedang ramai-ramainya orang membicarakan tentang Timnas
sepak bola yang prestasinya baik, maka Fadil ingin menjadi pesepak bola yang
handal dan dilirik oleh club asing dengan bayaran yang besar. Kalau sedang ada
kasus hukum yang berat dan berhasil diselesaikan, maka ia ingin jadi pengacara,
dan seterusnya. Namun yang paling Fadil ingini sebenarnya adalah menjadi
seorang koki di hotel berbintang membuat masakan yang berkelas internasional dan
mendapat fasilitas yang mewah. Sampai-sampai celengan yang dipecahnya digunakan
untuk membeli satu set pisau dengan banyak kegunaan. Malahan kata ibunya, Fadil
sering membawa pisaunya tidur….aneh memang.
Egi
cita-citanya sederhana, yaitu menjadi PNS dalam bidang apa saja, yang jelas
nantinya ada uang jaminan hari tua, kesehatan sampai kematian. Ingin
menaikhajikan kedua orang tuanya dan membelikan rumah lengkap dengan perabot
kelas atas dan serba puti.
****
Terkadang
kami sering tertawa sendiri memikirkan cita-cita kami itu, namun dengan segera
kami sadar kalau dengan mentertawakan cita-cita berarti sudah menghalangi
cita-cita itu menjadi kenyataan dalam hidup kami. Dan ketika kesadaran itu
datang maka kami bersama-sama akan berteriak”TIDAK”
Kami selalu belajar berpikir positif
dan optimis dengan mengambil beberapa pelajaran dari orang-oarang yang
berhasil, namun mereka bukan dari kalangan berada, tetapi seperti kami. Lalu
mengapa kami harus resah dan pasrah. Kami harus mampu mewujudkan cita-cita
kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar