Selasa, 24 Desember 2013


Ayah dan Aku
Karya: Risa Lisdariani

“Damar…! Cepet kemari, ada pertandingan sepakbola yang bagus dan seru, cepat Nak!” Seru ayah memanggilku dari ruang tengah. Aku bergegas masuk dan langsung duduk di sampingnya sambil mengelap mukaku dengan baju kaos putih yang kupakai.
“Yah, kapan kita ke makam ibu? Rasanya sudah hampir satu bulan ini kita tidak nyekar. Lagipula Aku mau sekalian pergi ke tanah lapang dekat pekuburan ibu untuk bermain layang-layang.” Tanyaku pada Ayah yang matanya tak terpejam karena sangking asyiknya menonton pertandingan dari tim pavoritnya, yaitu “MU”.
Sebenarnya aku juga sangat menyukai sepak bola seperti ayah, aku juga sangat menyukai catur seperti ayah, aku juga penyuka makanan manis dan pedas seperti ayah, dan aku juga suka membuat mainan sendiri seperti ayah. Ya, seperti ayah. Semua sifatku memang seperti ayah. Karena ayahlah yang membesarkan aku semenjak ibu meninggal dunia.
Ibu meninggal karena komplikasi darah tinggi setelah melahirkanku. Kata ayah, ibu sempat menyusuiku sesaat setelah aku dilahirkan dan mencium dahiku. Ibuku bertahan selama 6 jam. Sejak saat itulah kehidupanku dimulai berasam seorang yang bernama “Ayah.”
Kalau ditanya, aku tidak pernah iri dengan teman-temanku yang memiliki ibu dan yang selalu bercerita tentang ibu mereka. Aku sangat merasa memiliki kedua-duanya dengan ayah. Ayah selalu bisa menjadi segalanya untuk aku.
Sampai saat ini, aku tak pernah merasa ayah memarahiku dan berlebihan dalam menyayangiku sebagai anak tunggal. Aku diajarkan banyak hal dalam kehidupan. Ayah ingin  membentukku menjadi anak yang mandiri dan tidak mudah putus asa.
“Ya, besok Minggu kita berangkat ke makam ibu. Jangan lupa kau beli bunga di pasar depan untuk kita taburkan di makam ibu. Bawa juga lap dan parang untuk menebas rumput-rumput yang mungkin tumbuh di sekitar makam ibu.” Jelas ayah yang masih tetap serius menatap layar TV berukuran 30 inchi.
“kenapa mukamu penuh keringat dan tanganmu dibalut dengan perban?” sini ayah lihat.” Tiba-tiba ayah memperhatikan aku yang sedari tadi di sampingnya..
“Aku belajar membuat layang-layang sendiri Yah, dan luka ini karena terkena goresan bambu yang kurincingkan menjadi kerangkanya. Tapi, tak sakit Yah, hanya sedikit perih.”
“Bagaimana hasilnya? Sudah jadi layang-layangnya?” Tanya ayah dengan nada yang agak sedikit meragukan kemampuanku dalam membuatnya. Memang benar, kali ini adalah ketiga kalinya aku membuat layang-layang.
Waktu pertama kali, layang-layang yang kubuat tidak seimbang kerangkanya, akhirnya tidak bisa diterbangkan. Kedua kalinya, layang-layangku juga bermasalah dengan keseimbangannya. Mungkin ada yang salah dalam   proses pembentukan kerangkanya.
“Sudah Yah! Dan agaknya sih memuaskan. Aku membuatnya dengan warna merah. Nah, besok saatnya mencoba di tanah lapang dekat pekuburan ibu.” Sahutku dengan bangga dan yakin kalau karyaku kali ini akan berhasil diterbangkan.
“Kita lihat saja nanti, kalau bisa terbang, Ayah akan beri kamu hadiah sebagai imbalannya.” Kata ayah sambil menepuk pundakku. Aku tersenyum dan merasa gembira mendengar perkataan ayah. Ya memang begitulah ayah, dia akan selalu memberiku hadiah apabila aku telah melakukan usaha keras untuk sesuatu yang ingin kuraih dan ayah tak pernah inkar janji.
Nenek juga pernah berkata padaku kalau sifat ayah memang begitu. Sedari kecil ayah memang terbiasa hidup dengan penuh tantangan sampai dewasa dan menikah dengan ibu. Sekarang ayah pun harus membesarkanku seorang diri. Aku salut dengan ayah. Aku juga berterimakasih dengan almarhumah ibuku, ibu pasti wanita baik karena bisa bersama ayah membangun rumah tangga yang menurut cerita orang-orang adalah rumah tangga yang damai dan bahagia. Tapi, itu semua sudah berlalu. Yang ada sekarang aku dan ayah, bukan berarti aku melupakan ibuku. Aku dan ayah bersepakat untuk tidak meratapi tentang apa yang sudah terjadi dalam kehidupan kami. Kita biarkan ibu tenang di alamnya dan kita melanjutkan hidup kita.
****
          Kulap batu nisan dan ayah membersihkan rumput-rumput liar yang ada di makam ibu. Makam ibu tampak terawat dan bersih begitu juga dengan makam-makam yang lain. penjaga makam memang seminggu sekali bertugas membersihkan seluruh makam yang ada. Kami keluarga membayar iuran setiap satu bulan sekali. Suasana pekuburan menjadi nyaman dan tidak terkesan suram.
          Kami berdua duduk berjongkok di depan makam ibu. Ayah Nampak tertunduk sesaat sambil memejamkan matanya dan terkadang ketika membuka mata, aku melihat mata ayah sudah berkaca-kaca tapi tak sampai menangis. Aku paham dan aku juga merasa hal yang sama tapi tak boleh berlarut-larut.
          “Bu, ini Damar ngajak ke sini. Tapi mungkin cuma alasan saja. Sebenarnya niatnya mau bermain layang-layang buatannya.” Ucap ayah seolah berbicara dengan ibu sambil melihat ke arahku dan tersenyum.
          Begitulah ayah, aku juga tersenyum terkadang kami memang seperti dua orang yang kesepian tanpa ibu. Apa yang dilakukan ayah tadi hanya sekedar pelepas rindu kami.

****
          Cuaca hari ini sangat sejuk dan enak. Di tanah lapang ini anginnya kencang, cocok sekali untuk bermain layang-layang. Aku bergegas ke mobil untuk mengambil layang-layang yang kubuat sendiri. Tidak hanya aku, kulihat ada juga anak lain dan beberapa orang remaja yang juga bermain layang-layang. Namun, layang-layang mereka sangat bagus karena mereka membeli dengan harga mahal. Sementara layang-layangku buatan sendiri dari sisa kertas minyak merah di rumah.
          “Ayo, Mar! cepat lari! Lari! Numpung anginnya kencang!” teriak ayah dari jauh memanggilku yang mulai agak ragu menerbangkan layang-layangku karena kalah saing dengan layang-layang yang lain. Tapi, teriakkan ayah dan semangat ayah membuat aku melupakan keraguanku.
          Ayah mengambil ancang-ancang untuk memegang layang-layang kea rah angin yang bertiup. Sementara aku memegang benang dan mengencangkannya agar layang-layangu siap diterbangkan.
          “Siap ya, Mar! satu…dua…tiga…!” seketika ayah melepaskan layang-layangnya dan tak kusangka layang-layangku terbang dengan sangat tingginya. Aku masih tak percaya, aku telah berhasil membuat layang-layang walaupun sederhana.

 
 

          Ayah menghampiriku dan dia tahu kalau aku pasti sangat senang karena keberhasilan ini.
          “Sekarang kau belajar lagi, Mar satu hal.”
          “Tentang apa, Yah?”
          “Bahwa kegagalan itu adalah cambuk untuk kita berhasil, dan kau telah melakukannya.”
          “Ya, Yah, Damar mengerti sekarang. Pantas saja Ayah tak mau sama sekali turun tangan membantu Damar membuat layang-layang ini.”
          “Lihat layang-layangnya!”, kata ayah sambil menunjuk ke arah layang-layangku.
          “Layang-layang itu ibarat anak dan benangnya ibarat orang tua.”
          “Maksud Ayah?”, aku bingung.
          “Yang menentukan jalan hidup memang anak itu  sendiri, tapi orang tua terus mengawasi. Seperti ini, Kau biarkan benangnya terurai sepanjang-panjangnya dan layang-layangmu bergerak bebas. Tapi, kalau Kau lihat layang-layang oleng karena angin terlalu kencang, maka lekas Kau gulung benangnya agar layang-layangnya mudah dikendalikan dan tidak sampai putus. Begitu juga anak, orang tua akan memberikan kebebasan pada anaknya selama masih dalam batas kewajaran, namun orang tua juga harus bertanggung jawab atas kebebasan itu agar terus membimbing anaknya.
          “O…aku mengerti Yah, berarti layang-layang merupakan permainan yang mempnyai nilai-nilai tersendiri.” Aku merasa terpukau dengan kata-kata ayah. Satu lagi pelajaran kudapatkan dari sebuah layang-layang berwarna merah.
****
          Tak terasa sore sudah tiba, aku dan ayah menghabiskan waktu bermain layang-layang dengan menyenangkan. Kami melewati hari ini dengan penuh makna. Tak lupa aku menyimpan layang-layang pertamaku sebagai benda yang bersejarah dalam hidupku.
          Ayah tak lupa dengan janjinya untuk memberikan hadiah padaku jika layang-layangku berhasil diterbangkan. Namun, kukatakan pada ayah, tadi adalah hadiah yang luar biasa yang sudah diberikannya untukku. Akhirnya kami memutuskan pulang ke rumah dan ayah akan mengganti hadiahnya dengan memasakkan aku makanan kesukaanku “ Pisang Goreng Keju.”
          Terima kasih ayah, kuharap hari esok aku bisa menjadi seperti apa yang ayah inginkan dan juga kepada ibu yang jauh di sana aku persembahkan kebahagiaan kami berdua sebagai ketenangan untuk ibu.