Ayah dan Aku
Karya: Risa Lisdariani
“Damar…!
Cepet kemari, ada pertandingan sepakbola yang bagus dan seru, cepat Nak!” Seru
ayah memanggilku dari ruang tengah. Aku bergegas masuk dan langsung duduk di
sampingnya sambil mengelap mukaku dengan baju kaos putih yang kupakai.
“Yah,
kapan kita ke makam ibu? Rasanya sudah hampir satu bulan ini kita tidak nyekar.
Lagipula Aku mau sekalian pergi ke tanah lapang dekat pekuburan ibu untuk
bermain layang-layang.” Tanyaku pada Ayah yang matanya tak terpejam karena
sangking asyiknya menonton pertandingan dari tim pavoritnya, yaitu “MU”.
Sebenarnya
aku juga sangat menyukai sepak bola seperti ayah, aku juga sangat menyukai
catur seperti ayah, aku juga penyuka makanan manis dan pedas seperti ayah, dan
aku juga suka membuat mainan sendiri seperti ayah. Ya, seperti ayah. Semua
sifatku memang seperti ayah. Karena ayahlah yang membesarkan aku semenjak ibu
meninggal dunia.
Ibu
meninggal karena komplikasi darah tinggi setelah melahirkanku. Kata ayah, ibu
sempat menyusuiku sesaat setelah aku dilahirkan dan mencium dahiku. Ibuku
bertahan selama 6 jam. Sejak saat itulah kehidupanku dimulai berasam seorang
yang bernama “Ayah.”
Kalau
ditanya, aku tidak pernah iri dengan teman-temanku yang memiliki ibu dan yang
selalu bercerita tentang ibu mereka. Aku sangat merasa memiliki kedua-duanya
dengan ayah. Ayah selalu bisa menjadi segalanya untuk aku.
Sampai
saat ini, aku tak pernah merasa ayah memarahiku dan berlebihan dalam
menyayangiku sebagai anak tunggal. Aku diajarkan banyak hal dalam kehidupan.
Ayah ingin membentukku menjadi anak yang
mandiri dan tidak mudah putus asa.
“Ya,
besok Minggu kita berangkat ke makam ibu. Jangan lupa kau beli bunga di pasar
depan untuk kita taburkan di makam ibu. Bawa juga lap dan parang untuk menebas
rumput-rumput yang mungkin tumbuh di sekitar makam ibu.” Jelas ayah yang masih
tetap serius menatap layar TV berukuran 30 inchi.
“kenapa
mukamu penuh keringat dan tanganmu dibalut dengan perban?” sini ayah lihat.”
Tiba-tiba ayah memperhatikan aku yang sedari tadi di sampingnya..
“Aku
belajar membuat layang-layang sendiri Yah, dan luka ini karena terkena goresan
bambu yang kurincingkan menjadi kerangkanya. Tapi, tak sakit Yah, hanya sedikit
perih.”
“Bagaimana
hasilnya? Sudah jadi layang-layangnya?” Tanya ayah dengan nada yang agak
sedikit meragukan kemampuanku dalam membuatnya. Memang benar, kali ini adalah
ketiga kalinya aku membuat layang-layang.
Waktu
pertama kali, layang-layang yang kubuat tidak seimbang kerangkanya, akhirnya
tidak bisa diterbangkan. Kedua kalinya, layang-layangku juga bermasalah dengan
keseimbangannya. Mungkin ada yang salah dalam
proses pembentukan kerangkanya.
“Sudah
Yah! Dan agaknya sih memuaskan. Aku membuatnya dengan warna merah. Nah, besok
saatnya mencoba di tanah lapang dekat pekuburan ibu.” Sahutku dengan bangga dan
yakin kalau karyaku kali ini akan berhasil diterbangkan.
“Kita
lihat saja nanti, kalau bisa terbang, Ayah akan beri kamu hadiah sebagai
imbalannya.” Kata ayah sambil menepuk pundakku. Aku tersenyum dan merasa
gembira mendengar perkataan ayah. Ya memang begitulah ayah, dia akan selalu
memberiku hadiah apabila aku telah melakukan usaha keras untuk sesuatu yang
ingin kuraih dan ayah tak pernah inkar janji.
Nenek
juga pernah berkata padaku kalau sifat ayah memang begitu. Sedari kecil ayah
memang terbiasa hidup dengan penuh tantangan sampai dewasa dan menikah dengan
ibu. Sekarang ayah pun harus membesarkanku seorang diri. Aku salut dengan ayah.
Aku juga berterimakasih dengan almarhumah ibuku, ibu pasti wanita baik karena
bisa bersama ayah membangun rumah tangga yang menurut cerita orang-orang adalah
rumah tangga yang damai dan bahagia. Tapi, itu semua sudah berlalu. Yang ada
sekarang aku dan ayah, bukan berarti aku melupakan ibuku. Aku dan ayah
bersepakat untuk tidak meratapi tentang apa yang sudah terjadi dalam kehidupan
kami. Kita biarkan ibu tenang di alamnya dan kita melanjutkan hidup kita.
****
Kulap batu nisan dan ayah membersihkan
rumput-rumput liar yang ada di makam ibu. Makam ibu tampak terawat dan bersih
begitu juga dengan makam-makam yang lain. penjaga makam memang seminggu sekali
bertugas membersihkan seluruh makam yang ada. Kami keluarga membayar iuran
setiap satu bulan sekali. Suasana pekuburan menjadi nyaman dan tidak terkesan
suram.
Kami berdua duduk berjongkok di depan
makam ibu. Ayah Nampak tertunduk sesaat sambil memejamkan matanya dan terkadang
ketika membuka mata, aku melihat mata ayah sudah berkaca-kaca tapi tak sampai
menangis. Aku paham dan aku juga merasa hal yang sama tapi tak boleh
berlarut-larut.
“Bu, ini Damar ngajak ke sini. Tapi
mungkin cuma alasan saja. Sebenarnya niatnya mau bermain layang-layang
buatannya.” Ucap ayah seolah berbicara dengan ibu sambil melihat ke arahku dan
tersenyum.
Begitulah ayah, aku juga tersenyum terkadang
kami memang seperti dua orang yang kesepian tanpa ibu. Apa yang dilakukan ayah
tadi hanya sekedar pelepas rindu kami.
****
Cuaca hari ini sangat sejuk dan enak.
Di tanah lapang ini anginnya kencang, cocok sekali untuk bermain layang-layang.
Aku bergegas ke mobil untuk mengambil layang-layang yang kubuat sendiri. Tidak
hanya aku, kulihat ada juga anak lain dan beberapa orang remaja yang juga
bermain layang-layang. Namun, layang-layang mereka sangat bagus karena mereka
membeli dengan harga mahal. Sementara layang-layangku buatan sendiri dari sisa
kertas minyak merah di rumah.
“Ayo, Mar! cepat lari! Lari! Numpung
anginnya kencang!” teriak ayah dari jauh memanggilku yang mulai agak ragu
menerbangkan layang-layangku karena kalah saing dengan layang-layang yang lain.
Tapi, teriakkan ayah dan semangat ayah membuat aku melupakan keraguanku.
Ayah mengambil ancang-ancang untuk
memegang layang-layang kea rah angin yang bertiup. Sementara aku memegang
benang dan mengencangkannya agar layang-layangu siap diterbangkan.
“Siap ya, Mar! satu…dua…tiga…!”
seketika ayah melepaskan layang-layangnya dan tak kusangka layang-layangku
terbang dengan sangat tingginya. Aku masih tak percaya, aku telah berhasil
membuat layang-layang walaupun sederhana.
Ayah menghampiriku dan dia tahu kalau
aku pasti sangat senang karena keberhasilan ini.
“Sekarang kau belajar lagi, Mar satu
hal.”
“Tentang apa, Yah?”
“Bahwa kegagalan itu adalah cambuk
untuk kita berhasil, dan kau telah melakukannya.”
“Ya, Yah, Damar mengerti sekarang.
Pantas saja Ayah tak mau sama sekali turun tangan membantu Damar membuat
layang-layang ini.”
“Lihat layang-layangnya!”, kata ayah
sambil menunjuk ke arah layang-layangku.
“Layang-layang itu ibarat anak dan
benangnya ibarat orang tua.”
“Maksud Ayah?”, aku bingung.
“Yang menentukan jalan hidup memang
anak itu sendiri, tapi orang tua terus
mengawasi. Seperti ini, Kau biarkan benangnya terurai sepanjang-panjangnya dan
layang-layangmu bergerak bebas. Tapi, kalau Kau lihat layang-layang oleng
karena angin terlalu kencang, maka lekas Kau gulung benangnya agar
layang-layangnya mudah dikendalikan dan tidak sampai putus. Begitu juga anak,
orang tua akan memberikan kebebasan pada anaknya selama masih dalam batas
kewajaran, namun orang tua juga harus bertanggung jawab atas kebebasan itu agar
terus membimbing anaknya.
“O…aku mengerti Yah, berarti
layang-layang merupakan permainan yang mempnyai nilai-nilai tersendiri.” Aku
merasa terpukau dengan kata-kata ayah. Satu lagi pelajaran kudapatkan dari
sebuah layang-layang berwarna merah.
****
Tak
terasa sore sudah tiba, aku dan ayah menghabiskan waktu bermain layang-layang
dengan menyenangkan. Kami melewati hari ini dengan penuh makna. Tak lupa aku
menyimpan layang-layang pertamaku sebagai benda yang bersejarah dalam hidupku.
Ayah tak lupa dengan janjinya untuk
memberikan hadiah padaku jika layang-layangku berhasil diterbangkan. Namun,
kukatakan pada ayah, tadi adalah hadiah yang luar biasa yang sudah diberikannya
untukku. Akhirnya kami memutuskan pulang ke rumah dan ayah akan mengganti
hadiahnya dengan memasakkan aku makanan kesukaanku “ Pisang Goreng Keju.”
Terima kasih ayah, kuharap hari esok
aku bisa menjadi seperti apa yang ayah inginkan dan juga kepada ibu yang jauh
di sana aku persembahkan kebahagiaan kami berdua sebagai ketenangan untuk ibu.