Hijrah hati
Ketika senja mulai melupakan petang
Begitu akupun menata hati untuk melupakannya
Kini,
Aku menjadi subuh yang siap menerima kedatangan fajar
Yang membuatku sadar:
Bahwa betapa besar perjuangan malam untuk menjadi siang
Karena harus meneteskan butiran-butiran air mata
Di dedaunan…
Sebelumnya,
Kehangatan fajar pertama kurasakan dalam perjalanan panjang
Yang mungkin tak akan pernah terulang lagi
Pun fajar itu,
Untuk pertama kalinya mau memilihku untuk disinarinya
Entah terpaksa
Entah tidak
atau karena bagian bumi lain masih malam
Tapi ia pernah berkata:
Ini perjalanan panjang dengan waktu yang sebentar
Dengan warna pelangi terakhir
Tuhan…
Tak pernah kupinta dia dalam setiap doa-doaku
Tak pernah kuharap ada namanya dalam sebagian hidupku yang singkat
Tapi kini,
Kau berikan ruang di hatiku yang sempit untuknya duduk
Sambil bersantai dengaku menertawakan cerita
Yang Kau berikan pada aku dan dia.
Apakah kau terlalu baik
Dengan memberi apa yang tak kupinta
Atau…
Ini pilihan…
Kini,
Kubiarkan dia menjadi coretan indah dalam kanvas ungu
Yang tak akan kubuang dalam bak sampah emas sekalipun.
Ketika dua orang bertemu dan salah faham
Sebenarnya aku ingin mengatakan:
“Kau sudah menipuku”
Aku merasa tidak menipumu!
Inilah yang ingin kukatakan padamu…
Tapi bukan itu yang kumaksud…
Akhirnya kau mengetahui apa yang seharusnya tak kau ketahui
Kini,
Kau tau
Lalu,
Kau mau apa?
Menanti musim rambutan
Beberapa tahun yang lalu kita berbeda tempat
Kita berbeda dalam segala hal
Beberapa tahun kemudian kita satu tempat
Lalu,
Kita belum saling mengenal
Lalu,
Satu tempat menemukan kita dengan segelas kopi
Kemudian,
Beberapa bulan ini
Kita saling kenal
Kemudian,
Beberapa bulan ini banyak kata “janji”
Yang kita lewati adalah
Musim gelombang cinta, anthorium,
mangga, kawin kontrak, terakhir rambutan.
Apa ada musim lain yang bisa kita lewati bersama?
Atau hanya musim rambutan akhirnya?