Senin, 18 Februari 2008

puisi

Hijrah hati

Ketika senja mulai melupakan petang

Begitu akupun menata hati untuk melupakannya

Kini,

Aku menjadi subuh yang siap menerima kedatangan fajar

Yang membuatku sadar:

Bahwa betapa besar perjuangan malam untuk menjadi siang

Karena harus meneteskan butiran-butiran air mata

Di dedaunan…

Sebelumnya,

Kehangatan fajar pertama kurasakan dalam perjalanan panjang

Yang mungkin tak akan pernah terulang lagi

Pun fajar itu,

Untuk pertama kalinya mau memilihku untuk disinarinya

Entah terpaksa

Entah tidak

atau karena bagian bumi lain masih malam

Tapi ia pernah berkata:

Ini perjalanan panjang dengan waktu yang sebentar

Dengan warna pelangi terakhir

Tuhan…

Tak pernah kupinta dia dalam setiap doa-doaku

Tak pernah kuharap ada namanya dalam sebagian hidupku yang singkat

Tapi kini,

Kau berikan ruang di hatiku yang sempit untuknya duduk

Sambil bersantai dengaku menertawakan cerita

Yang Kau berikan pada aku dan dia.

Apakah kau terlalu baik

Dengan memberi apa yang tak kupinta

Atau…

Ini pilihan…

Kini,

Kubiarkan dia menjadi coretan indah dalam kanvas ungu

Yang tak akan kubuang dalam bak sampah emas sekalipun.

Ketika dua orang bertemu dan salah faham

Sebenarnya aku ingin mengatakan:

“Kau sudah menipuku”

Aku merasa tidak menipumu!

Inilah yang ingin kukatakan padamu…

Tapi bukan itu yang kumaksud…

Akhirnya kau mengetahui apa yang seharusnya tak kau ketahui

Kini,

Kau tau

Lalu,

Kau mau apa?

Menanti musim rambutan

Beberapa tahun yang lalu kita berbeda tempat

Kita berbeda dalam segala hal

Beberapa tahun kemudian kita satu tempat

Lalu,

Kita belum saling mengenal

Lalu,

Satu tempat menemukan kita dengan segelas kopi

Kemudian,

Beberapa bulan ini

Kita saling kenal

Kemudian,

Beberapa bulan ini banyak kata “janji”

Yang kita lewati adalah

Musim gelombang cinta, anthorium,

mangga, kawin kontrak, terakhir rambutan.

Apa ada musim lain yang bisa kita lewati bersama?

Atau hanya musim rambutan akhirnya?